Jumat, 08 Mei 2015

Menciptakan budaya Islami di sekolah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latarbelakang
Tradisi dan perwujudan ajaran agama memiliki keterkaitan yang erat, karena itu tradisi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari masyarakat/lembaga di mana ia dipertahankan, sedangkan masyarakat juga mempunyai hubungan timbal balik, bahkan saling mempengaruhi dengan agama. Untuk itu, menurut Mukti Ali, agama mempengaruhi jalannya masyarakat dan pertumbuhan masyarakat mempengaruhi pemikiran terhadapa agama. Dalam kaitan ini, sudjiatmoko juga menyatakan bahwa keberagaman manusia, pada saat yang bersamaan selalu disertai dengan identiras budayanya masing-masing yang berbeda-beda.dalam tataran nilai, budaya religius berupa: semangat berkorban (jihad), semangat persaudaraan (ukhuwah), semangat saling menolong (ta’awun) dan tradisi mulia lainnya. Sedangkan dalam tataran perilaku, budaya religius berupa: tradisi sholat berjamaah, gemar bersodaqah, rajin belajar dan perlikau yang mulia lainnya.
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, alam yang bergerak maupun alam yang tidak bergerak, kejadian-kejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan sesorang. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Zuhairini, bahwa lingkungan dalam konteks agama adalah lingkungan alam sekitar di mana anak didik berada, tentunya memiliki pengaruh terhadap perasaan dan sikapnya akan keyakinan atau agamanya.
Jadi bisa diambil sebuah pengertian bahwa lingkungan pendidikan islam adalah suatu tempat yang memungkinkannya berkembangnya seseorang secara normal sehingga mampu meningkatkan kualitas diri, dan mengaktualisasikan diri berdasarkan ajaran-ajaran agama islam.
Dengan demikian, budaya religius sekolah adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telahh tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama. Oleh karena itu, untuk membudayakan nilai-nilai keberagamaan (religius) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain melalui: kebijakan pimpinan sekolah, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas, kegiatan esktarkulikuler serta tradisi dan perilaku warga sekolah secara kontinyu dan konsisten.






B.     Rumusan masalah
1.      Seperti apa strategi kepala sekolah dalam membangun budaya yang religius?
2.      Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip keberagamaan?
3.      Bagaimana menciptakan budaya religius di sekolah?

C.     Tujuan
1.      Untuk menegtahuistrategi kepala sekolah dalam membangun budaya yang religius.
2.      Untuk mengetahui prinsip-prinsio keberagamaan.
3.      Untuk mengetahui bagaimana menciptakan budaya religius di sekolah.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Strategi Kepala Sekolah dalam membangun budaya yang religius
Kepala sekolah sebagai pemimpin professional di lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat pendting, mengingat posisinya secara structural sebagai pimpinan legal formal memiliki kekuasaab penuh pada lembaga yang dipimpinnya.Kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi dalam lembaga pendidikan sekolah.Penetapan strategi dalam bidang pendidikan agama Islam oleh kepala sekolah untuk diwujudkan dalam menciptakan suasana budaya religius di lingkungan sekolah. Pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar maupun menegah antara lain bertujuan mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlaq mulia, menjaga keharmonisan secara personal dan social serta melaksanakan budaya religious dalam komunitas sekolah. Lampiran standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pendidikan agama sebagai budaya sekolah telah memperoleh legalitas yang kuat.Kepala sekolah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kemajuan lembaga di lembaga pendidikan, harus memiliki kesiapan dan kemampuan untuk membangkitkan semangat kerja personal dan harus menciptakan iklim dan suasana yang kondusif, aman nyaman, tentram, menyenangkan serta berbudaya agamis.
Yang dapat disarankan dari strategi tersebut yaitu:
a.    untuk kepala sekolah dapat memepertahankan dan meningkatkan budaya religius dengan kontinyu sebagai wujud dari aktualisasi terhadap ajaran agama islam.
b.    para pngelola lembaga pendidikan dan kepala sekolah, hendaknya melakukan reorientasi program pendidikan di sekolah yang diarrahkan kepada perwujudan budaya religius di sekolah.
c.    bagi dinas pendidikan hendaknya meningkatkan partisipadi dan keterlibatan dengan memberikan dukungan baik moril maupun materiil kepada pelaksanaan budaya religius sekolah.
d.   bagi peneliti lain, dilakukan penelitian lebih lanjut yang mampu mengungkapkan lebih dalam tentang budaya religius di sekolah.

B.     Bagaimana Prinsip-prinsip keberagamaan
Saat ini, usaha penanaman nilai-nilai religius dalam rangka mewujudkan budaya religius sekolah dihadapkan pada berbagai tatanan baik secara internal maupun eksternal.Secara internal, pendididkan dihadapkan pada keberagamaan siswa, baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama.Lebih dari itu, setiap siswa memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran agama diharapkan menerapkan prinsip-prinsip keberagamaan sebagai berikut:
1.        Belajar hidup dalam perbedaan
Perilaku-perilaku yang diturunkan ataupun ditularkan oleh orang tua kepada anaknya atau leluhur kepada generasinya sangatlah dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan dan nilai budaya, selama beebrapa waktu akan terbentuk perilaku budaya yang meresapkan citra rasa dari rutinitas, tradisi, bahasa kebudayaan, identitas etnik, nasional dan ras.
Perilaku-perilaku ini akan dibawa oleh anak-anak ke sekolah dari setiap siswa memiliki perbedaan latar belakang sesuai dari mana mereka berasal. Keragaman inilah yang menjadi pusat perhatian dari pendidikan agama Islam berwawasan multicultural. Jika pendidikan Agama Islam selama ini masih konvensional dengan lebih menekankan pada proses how to know, how to do dan how to be, maka pendidikan agaman Islam berwawasan multicultural menambahkan how to live and work together with other yang ditanamkan oleh praktek pendidikan melalui:\
a)         Pengembangan sikap toleransi, empati dan simoati yang merupakan prasayarat esensial bagi keberhasilan koeksistensi proeksistensi dalam keberagaman agama. Pendidikan agama dirancang untuk menanamkan sikap toleran dari tahap yang paling sederhana sampai komplek.
b)        klarifikasi nilai-nilai kehidupan bersama menurut perspektif anggota dari masing-masing kelompok yang berbeda. Pendidikan agama harus bisa menjembatani perbedaan yang ada di dalam masyarakat, sehingga perbedaan tidak menjadi halangan yang berarti dalam membangun kehidupan bersama.
c)         pendewasaan emosional, kebersamaan dalam perbedaan membutuhkan kebebasan dan keterbukaan. kebersamaan, kebebasan dan keterbukaan harus tumbuh bersama menuju pendewasaan emosional dalam relasi antar dan dan itra agama-agama.
d)        Kesetaraan dalam partisipasi. Perbedaan yang ada pada suatu hubungan harus diletakkan pada relasi dan kesalingtergantungan, karena itulah mereka besifat setara. Perlu disadari bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk hidup serta memberikan konstribusi bagi kesejahteraan manusia yang universal.
e)         kontarak sosial dan aturan main kehidupan bersama. Perlu kiranya pendidikan agama memberi bekal tentang ketrampilan berkomunikasi, yang sesungguhnya sudah termaktub dalam nilai-nilai agama Islam.


2.        Membangun saling percaya (Mutual Trust)
Saling peracaya merupakan factor yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Disadari atau tidak prasangka dan kecurigaan yang berlebih terhadap kelompok lain telah diturunkan satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini yang membuat kehati-hatian dalam melakukan kontrak, transaksi, hubungan dan komunikasi dengan orang lain, yang justru memperkuat intensitas kecurigaan yang dapat mengarah pada keteganagan dan konflik.maka dari itu pendidikanj agama memiliki tugas untuk menanamkan rasa saling percaya antar agama, kultur dan etnik.
3.        Memelihara saling penegertian (Mutual understanding)
Saling menegrti berarti saling memahami, perlu diluruskan bahwa memahami tidak serta merta disimpulkan sebagai tindakan meneyetujui, akan tetapi memahami berarti menyadari bahwa nilai-nilai mereka dan kita dapat saling berbeda, bahkan mungkin saling melengkapi setra memberi konstribusi terhadap relasi yang dinamis dan hidup. Pendidikan agama berwawasan multukultural mempunyai tanggung jawab membangun landasan-landasan etis saling kesepamahaman santara paham-paham intern agama dan budaya yang plural, sebagai sikap dan kepedulian bersama.
4.        Menjunjung sikap saling menghargai (Mutual Respect)
Menghormati dan menghargai sesame maqnusia adalah nilai universal yang dikandung semua agama di dunia.pendidikan agama menumbuhkembangkan kesadaran bahwa kedamaian mengandalkan saling menghargai antar penganut agama-agama, yang dengannya kita dapat dan siap untuk mendengarkan suara dan perspektif agama lain yang berbeda, menghargai signifikansi dan martabat semua individu dan kelompok keagamaan yang beragam. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri tidak harus diperoleh dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri orang lain apalagi dengan menggunakan sarana dan tindakan kekerasan. Saling menghargai membawa pada sikap berbagai antar semua individu dan kelompok.
5.        Terbuka dan Berfikir
        Selayaknya pendidikan memeberi penegetahuan baru tenatang bagaimana berfikir dan bertindak bahkan mengadaptasi selayaknya pengetahuan baru dari para siswa. Dengan mengkondisikan siswa untuk dipertemukan dengan berbagai macam perbedaan, maka siswa akan mengarah pada proses pendewasaan dan memiliki sudut pandang dan cara untuk memahami rrealitas. Dengan demikian siswa akan lebih terbuka dengan dirinya sendiri, orang lain dan dunia. dengan melihat dan membaca fenomena pluralitas pandangan dan perbedaan radikal dalam kultur, maka diharapkan para siswa mempunyai kemauan untuk memulai pendalaman tentang makna diri, identitas, dunia kehidupan, agama dan kebudayaan diri serta orang lain.
6.             Apresiasi dan Interdepedensi
Kehidupan yang layak dan manusiawi akan terwujud melalui tatatnan social yang peduli, dimana setiap anggota masyarakatnya saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi dan kesalingkaitan yang erat. Manusia memiliki kebutuhan untuk saling menolong atas dasar cinta dan ketulusan terhadap sesame.Bukan hal mudah untuk menciptakan masyarakat yang dapat membantu semua permasalahan orang-orang yang berada disekitarnya, masyarakat yang memiliki tatanan social harmoni dan dinamis dimana individu-individu yang ada di dalamnya saling terkait dan mendukung bukan memecah belah.Dalam hal inilah pendidikan agama Islam berwawasan multicultural perlu membagi kepedulian tentang apresiasi dan interdepedensi umat manusia dari berbagai tradisi agama.
7.             Resolusi Konflik
Konflik berkepanjangan dan kekerasan yang merajalela seolah menjadi cara hidup satu-satunya dalam masyarakat plural, satu pilihan yang mutlak harus dijalani. Padahal hal ini sama sekali jauh dari konsep agama-agama yang ada di muka bumi ini. Khususnya dalam hidup beragama, kekerasan yang terjadi sebagian memperoleh justifikasi dari doktrin dan tafsir keagamaan konfensional.Baiklangsung maupun tidak kekerasan masih belum bisa dihilangkan dari kehidupan beragama.

C.     Menciptakan Budaya yang religius
Secara normative pendidikan diharapkan dapat memeberi petunjuk bagi keberlangsungan  kehidupan sesuai dengan tata nilai ideologis, agama dan kultur bangsa. Dan secara material pendidikan seyogyanya dapat memebrikan pengetahuan yang memajukan dan mempertinggi kualitas hidup, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara. Untuk mewujudkannya dibutuhkan proses kreatif dan inovatif dari penyelenggara pendidikan. Kebanyyakan praktik pendidikan menggunakan model belajar yang cenderung tradisional. Dalam proses pendidikan tradisonal, pendidik selalu menganggap siswa sebagai objek yang tidak memiliki potensi apapun. Pendekatan pendidikan semacam ini menyebabkan anak ridak terbiasa menghadapi permasalah yang muncul secara kritis.
cara mengajar yang sekedar duduk di depan kelas sesungguhnya menjadi tanda kurangnya dinamisme sebagai seorang pnedidik sejati. bisa jadi ini hanya sebuah symbol dan tidak mewakili sosok guru seutuhnya secara keseluruhan. Jika demekian adanya, seakan jauh rasanya seorang guru dapat menciptakan pembelajaran yang produktif dan professional.Padahal guru juga memiliki tanggung jawab dalam memodifikasi proses integrasi dan optimalisasi system pendidikan di sekolah.
Seharunya yang dikembangkan adalah pendekatan pemebekajaran yang berorientasi pada active learning sehingga siswa terbiasa aktif dan terbiasa untuk mencari pemecahan dari masalah yang timbul.
Penciptaan religius kultur dapat dilakukan dengan mengadakan berbagai aktivitas keagamaan, seperti sholat berjamaah, menngucapkan salam dan tadarus Al-Qur’an.
Kegiatan berupa membaca al-Quran ketika memulai pelajaran dan menutup kegiatan belajar dengan membaca asmaul husna, membiasakan salam dan sapa antara siswa dan guru ataupun siswa dengan siswa, sholat berjamaah dhuhur dan jum’atan berjamaah di sekolah, peringatan hari besar keagamaan dan penggunaan baju muslimah bagi siswi muslim dan lain-lain. Semuanya itu merupakan kegeiatan sederhana yang sesungguhnya memiliki damlpak yang positif dalam menciptakan sense of religious siswa.







Kesimpulan
            Budaya keagamaan merupakan kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan spontan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai agama dan moral. Kemampuan guru PAI untuk mampu mayiknkan seluruh civitas akademika di lembaga pendidikan, terutama kepala sekolah, akan pentingnya budaya keagaman adalah kuncinya. Ketika seorang kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekaligius penanggung jawab d isekolah sudah memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan budaya keagamaan maka dalam pelaksanaannya akan lebih mudah.
            Kesadaran semua pihak, bukan hanya guru agama bahwa pembiasaan perlaku keagamaan di sekolah merupakan alternative jawaban dari berbagai persoalan bangsa ini sangatlah dibutuhkan.








Daftar Pustaka
            Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung:Rosyadakarya, 2011
            Zakiyuddin Baidhowi, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta:Airlangga, 2005
            Malik fadjar. Holistika Pemikiran Pendidikan. Bandung:Raja Grafindo Persada. 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar